Dugaan Kemiripan Peta Kuno – Sebuah Pendahuluan

Pada suatu hari Dr. Kamal Salibi seorang penerjemah kitab-kitab kuno dari Universitas Amerika di Beirut menerima copy indeks ilmu bumi Arab Saudi, diterbitkan di Riyadh tahun 1977. Dan ketika dia sedang memeriksanya untuk nama-nama tempat yang tidak berasal dari dari bahasa Arab yang terletak di Arabia Barat, ketika itulah dia menyadari bahwa nama-nama tempat di Arabia Barat juga merupakan nama-nama yang tertera di dalam Kitab Perjanjian Lama (Bibel Ibrani).

Pada mulanya ia meragukan persamaana ini, tetapi setelah bukti-bukti yang memperkuat itu terkumpul, ia merasa yakin bahwa persamaan tersebut bukanlah suatu kebetulan belaka. Hampir semua nama tempat kuno yang ia dapati di dalam Bibel Ibrani berpusat pada daerah dengan panjang 600 kilometer dan selebar 200 kilometer, yang pada zaman ini meliputi daerah Asir dan bagian Selatan Hijaz. Semua koordinat tempat-tempat yang disebutkan didalam Kitab Bibel Ibrani dapat dicocokkan dengan nama tempat didaerah ini, sebuah fakta yang aneh. Prosedur yang ia pakai secara teknis disebut analisa onomastik, atau lebih tepat analisa toponimik. Beliau mengakui bahwa penemuannya ini hanya bersifat teoritis, sebelum diperkuat oleh penyelidikan-penyelidikan arkeologis.

Sebagai contoh Nabi Musa menurut Keluaran 3:1f, dipanggil oleh malaikat Yahweh dari sebuah belukar yang menyala-nyala di Gunung Horeb. Menurut Qur’an 20:12/79:16, panggilan terhadap Nabi Musa terjadi dilembah Tuwa/Tiwa. Sebuah punggung bukit di daerah pantai Asir bernama Jabal Hadi, disini sekarang masih berdiri dusun bernama Tiwa. Di dekat Jabal Hadi sampai sekarang juga masih berdiri desa bernama Harib (bandingkan dengan Horeb). Karena nama-nama Arab dan Ibrani berasal dari satu rumpun bahasa, maka keduanya dapat dikonotasikan dengan cara transliterasi yang unik dengan pemahaman bahasa yang memadahi.

Pendahuluan (by Kamal Salibi)
Saya akan berbicara langsung mengenai pokok persoalan. Saya yakin bahwa saya telah mendapatkan suatu penemuan penting yang seharusnya akan dapat mengubah pengertian kita tentang Bibel Ibrani,atau apa yang disebut oleh kebanyakan orang sebagai Perjanjian Lama. Penemuan ini berupa dugaankuat bahwa Kitab Bibel itu berasal dari Arabia Barat, dan bukan dari Palestina, seperti yang sampaikini diduga oleh para ahli, berdasarkan pada perkiraan geografis. Bukti yang saya dapati untuk menentang pernyataan ini akan dibahas pada bab-bab yang berikut. Dugaan saya ini didasarkan padaanalisa linguistik dari nama-nama tempat yang tertera di dalam Kitab Bibel, yang menurut pendapatsaya sampai sekarang terus menerus telah diterjemahkan secara tidak benar. Prosedur ini secarateknis disebut analisa onomastik , atau barangkali lebih tepat analisatoponimik . Saya terus-terangmengakui bahwa penemuan ini masih bersifat teoritis, sebelum diperkuat oleh penyelidikan- penyelidikan arkeologis. Akan tetapi bukti-bukti yang saya dapati sangatlah besar sehingga hanyaakan disangsikan oleh orang-orang kolot saja, dan saya yakin kesangsian itu pun akan lenyap setelahadanya dukungan selanjutnya oleh para ahli.

Tidak mengherankan, dalam membuka jalan baru, jika saya melakukan beberapa kesalahan yangmungkin akan dijadikan kesempatan oleh para kritikus untuk menodai hasil-hasil penemuan saya ini.Tetapi saya yakin bahwa kesalahan itu tidak akan begitu besar sehingga dapat mempengaruhi hasil penemuan ini. Tidak diragukan lagi, banyak orang akan mengeluh bahwa referensi saya terhadapkepustakaan yang luas mengenai geografi Bibel Ibrani itu hanya sepintas saja. Jawaban yang akansaya berikan singkat saja, yaitu bahwa saya samasekali tidak setuju dengan apa yang telah tertulisdan merasa tidak perlu membebani para pembaca dengan sanggahan-sanggahan mengenai penemuan-penemuan yang lalu satu persatu. Sebenarnya saya khawatir juga bahwa daftar nama-nama tempat yang menjadi dasar pokok argumentasi buku ini akan menimbulkan kesulitan kepada pembaca yang tidak begitu biasa dengan transliterasi abjad Ibrani dan Arab. Sementara sayaharapkan para spesialis akan ikut bersabar bersama saya, saya sarankan pembaca biasa melewati saja bagian-bagian itu, dan memusatkan perhatian pada kesimpulan yang telah saya usahakan seringkasdan sejelas mungkin, dengan harapan hal ini dapat saya kemukakan dengan sebaik-baiknya.

Untuk membantu pembaca umum, beberapa pengetahuan dasar baik mengenai bahasa dalam BibelIbrani ataupun perbandingannya secara linguistik yang berhubungan dengan bahasa-bahasa Semit, barangkali masih diperlukan. Ringkasnya, Kitab Bibel Ibrani kanonik itu terdiri dari tiga puluhsembilan kitab yang dahulunya disusun dalam dua puluh empat buah gulungan. Lima kitab pertama,yaitu Pentateuch (atau Torah dalam bahasa Ibrani, yang berarti ‘pelajaran’) terdiri dari Kejadian,Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Selanjutnya, dua puluh satu kitab Kisah para Rasul:empat karya bersejarah Yosua, Hakim-hakim, Samuel (2 kitab), Raja-raja (2 kitab); kitab-kitab TigaRasul utama Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel; kemudian dua belas kitab mengenai para nabi-nabi,yaitu: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia danMaleakhi. Dan akhirnya tiga belas kitab puisi-puisi keagamaan dan kesusastraan mengenaikebijaksanaan, Tulisan-tulisan, yang terdiri dari Mazmur, Amsal, Yob, Kidung Agung, Rut, Ratapan,Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia dan Tawarikh (2 kitab). Kecuali bagian-bagian Aramaik dari kitab Daniel (2:4b – 7:28) dan kitab Ezra (4:8 – 6:18), semua karangan orisinalnya yang sampaikepada kita tertulis dalam bahasa Ibrani.

Hal-hal yang bersangkutan dengan penanggalan dan penyusunan kitab-kitab Bibel Ibrani itu terlalurumit untuk dibahas secara rinci, dan tidaklah penting dalam argumentasi saya ini. Sejumlah kitab-kitab itu, misalnya, sudah dapat dipastikan sebagai karya-karya baru yang disusun berdasarkannaskah-naskah yang lebih tua, sehingga dapat diperkirakan baru tersusun pada sekitar abad ke-4S.M., setelah runtuhnya kerajaan Israil kuno.Yang sudah pasti ialah bahwa bahasa Ibrani dalam Bibel secara keseluruhan mempunyai bentuk  bahasa sehari-hari, tidak seperti halnya bahasa Ibrani yang dipakai oleh para rabbi (pendeta Yahudi)yang berfungsi khusus sebagai bahasa kesarjanaan. Dengan kata lain, naskah-naskah Bibel Ibraniyang kita kenal telah ada sebelum abad ke-5 S.M., pada waktu Kerajaan Israil kuno mengalamikehancurannya dan sewaktu bahasa Ibrani dan berbagai bentuk bahasa Kanaan sudah tidak dipakailagi. Ini berarti kita dapat mempergunakan Bibel Ibrani itu, paling tidak dalam penelitian ini, sebagaidokumen yang berhubungan langsung dengan sejarah Israil, lepas dari soal-soal penanggalan,komposisi, atau siapa penulisnya.Karena hampir seluruh argumentasi ini dititikberatkan pada perkiraan saya bahwa Bibel Ibrani terus-menerus diterjemahkan dengan tidak benar, maka patut diadakan suatu pembetulan. Singkatnya,seperti yang akan saya jelaskan secara lebih mendalam padaBab 2, bahasa Ibrani itu tidak lagidipergunakan sebagai bahasa sehari-hari pada sekitar abad ke-5 atau ke-6 S.M. Oleh sebab itu, jikaingin memahami Bibel Ibrani kita harus memilih satu di antara dua metode. Cara yang pertama ialah menerima saja terjemahan naskah-naskah yang diterjemahkan secara tradisional itu dalam bahasa Ibrani, atau menyelidiki bahasa-bahasa Semit yang masih berhubungan erat dengan bahasaIbrani, seperti bahasa Arab dan bahasa Suryani. Bahasa Suryani merupakan peninggalan darisuatu bentuk bahasa Aram kuno. Saya tidak menggunakan penterjemahan secara tradisional dalam bahasa Ibrani, karena para ahli Yahudi yang menterjemahkan dan memberi bunyi vokal pada BibelIbrani antara abad ke-6 dan ke-10 M. itu tidak dapat berbahasa Ibrani secara lisan dan mungkinmendasarkan rekonstruksi mereka pada dugaan-dugaan saja. Jika memakai metode kedua, untuk menafsirkan bahasa Ibrani yang dipergunakan di dalam Bibel Ibrani, kita harus melakukannya berkenaan dengan fonologi dan morfologi perbandingan dari bahasa-bahasa Semit. Mengingat banyak pembaca yang belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini, sekali lagi saya akan memberikaninformasi dasar mengenai hal ini. Bahasa Semit pada umumnya dianggap sebagai anggota keluarga besar bahasa-bahasa Afro-Asiayang meliputi bahasa Mesir kuno dan bahasa Berber serta Hausa modern. Dari bahasa-bahasa ini, yang termasuk dalam cabang bahasa Semit ialah bahasa Akkadia (bahasa kuno Babilonia danAsiria), bahasa Kanaan (bahasa Funisia kuno dan bahasa Ibrani kuno adalah suatu varian dari bahasaini), bahasa Aram (bahasa Suryani) dan bahasa Arab. Salah satu ciri khas yang dimiliki bahasa- bahasa ini adalah sistem mendapatkan akar suatu kata yang biasanya terdiri dari tiga konsonan.Akar-akar kata ini biasanya dipahami sebagai kata kerja, dan ada seperangkat pola asal mula katakerja ini yang telah membentuk kata kerja lain, dan juga kata benda dan kata sifat yang beranekaragam. Ini melibatkan beberapa cara pemberian tanda vokal pada akar kata dengan menambahkanhuruf-huruf hidup, dan juga penambahan satu atau lebih konsonan pada akar kata yang asli. Dalamkamus-kamus standar bahasa-bahasa Semit, kita biasanya mencari akar kata tertentu, yang kemudiandiikuti oleh serangkaian kata jadian yang berasal dari akar kata itu. Sejumlah akar kata yang samaterdapat di beberapa bahasa Semit, dengan arti yang sama atau dengan arti yang berdekatan. Kalaukita telah menguasai sebuah bahasa Semit, akan lebih mudah mempelajari yang lain.

Terkadang, sebuah akar kata yang ada pada dua atau lebih bahasa Semit tidak mudah dikenalisebagai akar kata yang sama oleh seseorang yang tidak berbahasa Semit sebagai bahasa ibu. Inidisebabkan karena satu atau lebih konsonan dalam akar kata itu dapat berubah dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Dalam bahasa Ibrani, contohnya, akar kata yang berarti ‘mendiami’ adalahhsr ,sedangkan dalam bahasa Arab akar kata itu adalahhdr . Penjelasannya adalah bahwa pemakai bahasaSemit secara naluriah mengenai hubungan fonologis antara pelbagai konsonan, yang dapat ditukar tempatnya di antara berbagai bahasa-bahasa Semit. Misalnya, ‘g’ di dalam satu bahasa atau dialek (yang dapat diucapkan seperti huruf ‘g’ atau sebagai huruf ‘ j’) dapat berubah menjadi huruf ‘q’ (qaf ) atau ‘g’ (ghayn) dalam bahasa atau dialek yang lain. Maka kata Negeb dalam bahasa Ibrani (sebagai sebuah nama tempat) berubah menjadi Naqab atau Nagab dalam bahasa Arab.

Perubahan konsonan di antara bahasa-bahasa Semit ini nampaknya mengikuti peraturan-peraturantertentu, dan untuk mudahnya saya telah tabulasikan perubahan-perubahan tersebut dari bahasaIbrani ke bahasa Arab di bagian tepatsebelumKata Pengantar buku ini. Ada pula masalah metatesis,atau perubahan dalam penempatan konsonan-konsonan dalam akar kata yang sama antara pelbagai bahasa Semit, misalnya akar kata acb, dapat berubah menjadi cab atau bca. Metatesis bukanlah suatufenomena linguistik yang hanya ditemui dalam bahasa-bahasa Semit. Kita dapat juga menjumpainyadalam bahasa-bahasa yang lain , walaupun metatesis sangat biasa terjadi di antara bahasa-bahasaSemit yang sama. Dalam sebuah dialek Arab, contohnya,zwg(diucapkanzawj), yang berarti ‘sepasang’ dapat berubah menjadigwz(diucapkan jawz), yang terakhir adalah bentuk yang biasa terdapat pada dialek Libanon yang saya pakai.

Sama pentingnya, kalau tidak lebih, untuk mengingat bahwa bahasa-bahasa Semit ditulis dalam bentuk konsonan tanpa huruf hidup. Namun, pada terjemahan-terjemahan Kitab Bibel dalam bahasaInggris dan dalam bahasa-bahasa lainnya, nama-nama menurut Bibel itu dikemukakan dalam bentuk yang telah diberi huruf vokal, yang berasal dari penyuaraan kaum ‘Masoret’ atau dari tradisi KitabBibel Ibrani, yang seperti telah saya katakan, mungkin salah, sepanjang ahli-ahli Masoret itu perlumenyusun kembali bahasa Ibrani, yang sudah dipergunakan lagi secara umum. Agar membantu para pembaca, yang telah saya lakukan adalah memberikan baik kata Ibrani yang diberi vokal secaratradisional maupun yang belum diberi vokal, dan saya berusaha untuk menunjukkan bagaimana katayang sama itu, jika diberi vokal dengan cara yang berbeda, dapat mempunyai arti selain yang telahditentukan menurut tradisi kaum Masoret. Mengenai kata-kata –terutama nama-nama tempat yang berasal dari catatan-catatan kuno Mesir, mustahil untuk mengetahui bagaimana semua itudisuarakan. Maka dari itu, apa yang telah saya lakukan dalam contoh-contoh yang seperti itu adalah mengemukakannya dalam bentuk konsonan mereka dan juga membuat agar mereka dapatdibandingkan dengan bentuk-bentuk konsonan Ibrani. Seperti itu pula, jika saya mengutip kalimat-kalimat lengkap dari Bibel Ibrani, saya telah menuliskan kata-kata Ibrani yang tidak diberi vokal kedalam bentuk Latin yang belum diberi tanda vokal pula. Ini agaknya tidak banyak membantu dalam pembacaannya, tetapi berkenaan dengan argumentasi saya, saya tidak melihat adanya alternatif lainyang lebih baik.

Untuk meringkaskan: apa yang sama dalam perbendaharaan kata dari berbagai bahasa Semit adalahsejumlah besar akar kata konsonan dan bentuk-bentuk kata yang berasal dari situ; yang terakhir initidak mempunyai perbedaan yang besar antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Gunamembandingkan kata-kata dalam berbagai bahasa Semit, kita perlu mengeja kata-kata itu hanyadalam bentuk konsonannya, kalau tidak demikian maka seluruh maknanya akan hilang. Maka dariitu saya harus memohon kepada pembaca agar mereka bersabar jika terdapat perbandingan- perbandingan seperti itu, dan agar mereka percaya bahwa perbandingan-perbandingan ini dibuatmenurut peraturan yang pantas bagi ilmu bahasa perbandingan.

Berpaling pada metodologi, karena alasan-alasan yang kini telah jelas, saya mendasarkan studi sayaini pada teks konsonan Bibel Ibrani, membanding-bandingkan sebutan tertentu dengan nama-namatempat di Arabia Barat guna memberikan alternatif bagi penterjemah tradisional. Kita tidak perlumembahasnya lebih jauh dari itu, karena masalah-masalah yang seperti ini akan saya bahas dalamBab 2.Namun, saya hanya ingin menambahkan bahwa selain meneliti buku-buku dan peta-peta,saya telah pula melakukan sebuah perjalanan ke Arabia Barat, yang saya yakin adalah tanah asalKitab Bibel, guna menjadi lebih akrab dengan lokasi-lokasi utama yang disebutkan di dalam studi inidan secara langsung mengamati bagaimana pelbagai lokasi yang telah saya sebutkan tadi itu berhubungan, baik secara geografis maupun secara topografis.

Di atas dasar-dasar inilah argumentasi buku saya ini berdiri. Apakah saya berhasil atau tidak meyakinkan para ahli Bibel Ibrani itu masih harus disangsikan dahulu. Yang dapat saya katakanadalah bahwa saya yakin sepenuhnya atas hasil-hasil penemuan yang dihasilkan oleh analisatoponimis saya, dan saya menanti-nanti datangnya saat para arkeolog menggali beberapa tempat peninggalan zaman purbakala yang telah saya sebutkan, dan semoga menghasilkan bukti-bukti yanglebih lanjut bahwa tanah asal Kitab Bibel Ibrani adalah Arabia, Barat, bukan Palestina. |Kamal Salibi : Bible Came From Arabia|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: